Rabu, 08 Februari 2012

Kemilau Cahaya Ilahi

Bismillaahirrahmaanirrahiim
Di keheningan malam aku bersujud pada Allah yang telah menciptakan aku dengan bentuk yang sebaik-baiknya di antara makhluk-makhluk-Nya. Aku bermelodi dengan titah cahaya-Nya, begitu indah ukiran-ukiran kitab-Nya dan begitu bermakna kandungan yang ada di dalam-Nya. Aku senantiasa berdoa pada-Nya agar aku selalu mendapatkan keridhoan-Nya untuk hidup di dunia yang penuh tantangan dan godaan.
Malam sepertiga terakhir itu aku lewati dengan tetesan air mata yang begitu merindukan Rabbku. Aku merasakan kerinduan yang sangat mendalam pada Rabbku. Aku merasakan manisnya iman yang telah Allah berikan kepadaku. Indah memang, jika aku mengingat-ingat itu. Tak dapat dipungkiri bahwa aku menangis dalam kesunyian malam, air mataku menetes begitu derasnya sehingga pakaian sholatku basah dengan air mataku. Ya, malam yang penuh dengan sedikit keluh kesah dan harapan yang belum tentu dapat aku raih.
Aku sedikit teringat akan nasihat ibuku “Janganlah kamu berkeluh kesah Nak, ibu akan selalu mendukung kamu dengan sedikit cucuran keringat ibu dan doa ibu yang selalu menyertaimu.”
“Iya bu, aku akan mencoba untuk tegar menghadapi ini semua, aku sayang ibu dan aku sedikit kecewa dengan bapak yang kurang bertanggung jawab dalam kondisi keluarga kita, semoga Allah cepat-cepat menyadarkan bapak ya bu.”
“Iya Nak, bapakmu sekarang mungkin lagi bingung dengan dirinya sendiri yang belum bisa mencari pekerjaan yang tepat untuknya, kita harus bisa membantunya Nak untuk menyadarkan dan mendukung bapakmu.” Ucap ibu dengan penuh semangat yang memotivasi diriku ini dalam nasihatnya.
Aku tak mau menyusahkan ibuku, aku harus terus belajar di bangku kuliah ini sambil mencari usaha kecil-kecilan untuk membantu ibu membiayai kuliahku. Aku juga ingin sekali menyadarkan bapakku sebagai pemimpin di dalam rumah tangga agar dia selalu mengingat Allah dalam setiap desah nafasnya dan selalu bertanggung jawab dalam memimpin keluarganya.
Tak terasa adzan Shubuh telah berkumandang, akupun mengambil air wudhu dan bersiap-siap menuju rumah Allah. Aku melangkahkan kaki keluar rumah dengan membaca basmalah, doa keluar rumah, ayat kursi, dan dzikir-dzikir yang lain. Aku pun masuk masjid dengan hati yang tenang dan memulai sholat berjama’ah bersama dengan orang-orang yang hatinya juga tenang InsyaAllah.
Aku merasakan kedekatan yang sangat mendalam dengan Rabbku pada waktu sholat Shubuh itu. Aku merasakan kekhusyu’an dalam sholatku karena aku sholat di rumah Allah yang penuh dengan cahaya-Nya. Seusai sholat Shubuh aku teruskan dengan membaca Al-Qur’an, kitab Allah yang mengandung hikmah-hikmah, petunjuk, dan rahmat-Nya. Ku lantunkan ayat-ayat suci itu dengan nada yang tidak begitu keras dan juga tidak begitu pelan. Aku meresapi bacaan-bacaan ayat suci Al-Qur’an dengan penuh asa dan doa agar aku mendapatkan keridhoan dalam hidup di dunia yang hanya semntara ini.
Perjalanan pagi pun terus berlanjut, aku berusaha mendekati bapakku, mengucapkan kata-kata tulus dari lubuk hatiku. “Pak, aku ingin sekali keluarga kita bahagia dalam naungan rahmat Allah, aku ingin agar Bapak mengerti akan sebuah makna kehidupan yang penuh dengan hambatan dan rintangan.”
“Kenapa kamu berkata seperti itu, bukankah keluarga kita sudah bahagia, kamu bisa kuliah, ibumu juga sudah bekerja, dan bapak hanya ingin menunggu kesuksesanmu, apa yang kamu inginkan Nak?” Kata ayah dengan nada-nada kelembutan.
“Aku tahu pak, bapak menginginkan aku sukses dan sama halnya pula dengan ibu pak. Ibu juga menginginkan anaknya sukses ke depannya. Aku kasihan pak dengan ibu yang setiap hari banting tulang menghidupi keluarga kita demi sesuap nasi untuk kita, apa bapak belum mengerti juga arti dari kata-kataku? Aku hanya ingin bapak bekerja, membantu ibu yang hanya perempuan biasa yang selalu menjaga kehormatannya. Sedangkan bapak yang begitu sehat dan kuat yang hanya duduk-duduk santai dalam kursi rumah. Apa bapak tidak kasihan dengan ibu, istri bapak sendiri yang amat sangat bapak cintai?” Ucapkudengan hati yang penuh kesabaran.
“Mengapa kamu mencampuri urusan bapak, bapak sebagai pemimpin di rumah ini, jadi bapak berhak melakukan dan memerintah kamu dan juga ibumu!” Kata bapak dengan nada-nada yang agak mengeras.
“Aku ingin menyelamatkan keluarga kita dari neraka Pak, yang bahan bakarnya manusia dan batu. Aku tak ingin Bapak masuk ke jurang kenistaan hanya karena ego Bapak. Aku ingin keluarga kita bahagia seperti keluarga teman-temanku Pak. Ayolah Pak, Bapak harus berusaha untuk mencari lowongan pekerjaan yang tepat untuk Bapak, meskipun pekerjaan itu kecil yang penting halal dan baik. Apakah Bapak bersedia?” Ucapku dengan nada-nada ngotot.
“Kamu itu sudah berani menceramahi bapak, bapak tahu semua itu meskipun kamu tidak mengatakannnya pada bapak, kamu itu anak satu-satunya membuat bapak repot saja, kamu itu anak perempuan yang tidak tahu aturan, pergi sana, suruh ibumu untuk mengajarimu lebih sopan santun pada bapak!” Kata bapak dengan nada-nada kemarahan padaku.
Aku tak tahu apa lagi yang harus aku katakan pada bapak, bapak yang begitu keras wataknya. Aku pun melanjutkan aktivitasku di pagi yang cerah ini, meskipun suasana hatiku sedang kelam. Aku pun ke dapur membantu ibuku untuk menggoreng pisang yang akan dijual ke pasar-pasar, aku sangat bangga dengan ibuku karena beliaulah yang selama ini membiayai aku sekolah sampai kuliah di pasca sarjana saat ini.
Aku membantu ibu untuk mengirim pisang gorengnya ke pasar-pasar. Ibu yang begitu lembut hatinya, tegar dalam menghadapi ujian apapun, yang selalu tersenyum untukku setiap waktu. Aku ingin menangis rasanya ketika aku sedang bersama dengan ibu, aku ingin menjadi sesosok muslimah seperti ibu.
“Ibu, engkaulah perempuan terhebat yang aku temui di dunia ini, engkau tak pernah mengatakan letih saat engkau sedang bersamaku, engkau serahkan jiwa dan ragamu untuk keluarga kita tercinta, meskipun bapak selalu menyakiti hatimu, engkau selalu tersenyum dalam sakit hati itu. Aku ingin membalas jasa-jasamu selama ini yang telah engkau berikan kepadaku bu. Aku ingin membahagiakanmu bu dan juga membahagiakan bapak, aku ingin mempersatukan ikatan cinta antara engkau dan bapak bu, ikatan cinta yang tecipta karena Allah.” Gumamku dalam hati.
“Nak, ayo cepat kamu berikan pisang goreng yang ada di talam ke ibu yang menjual nasi itu.”Tiba-tiba ibu membangunkan aku dalam gumamku.
“Iya bu, akan segera aku berikan pisang goreng buatan Ibu yang terlezat ini kepada ibu itu.” Jawabku dengan rasa penuh kasih sayang terhadap ibu.
“Iya nak, terima kasih ya Nak atas bantuanmu, ibu sangat menyayangimu. “Ucap ibu dengan suara yang amat lembut.
Akhirnya semua pisang goreng itu tersebar di pasar, aku dan ibu pun kembali ke rumah tercinta. Aku mengajak ibu untuk sholat Dhuha, ibu pun mengambil air wudhu dan begitu pula dengan aku. Setelah wudhu, aku melihat bapak tidur di kursi ruang televisi, aku membangunkannya dengan suara yang agak keras agar bapak bisa bangun. Bapak pun terbangun dan beliau agak marah denganku karena sudah mengganggu tidurnya.
“Maafkan aku pak, karena aku sudah berani membangunkan Bapak, aku hanya ingin mengajak Bapak sholat Dhuha, ayo Pak jenengan ambil air wudhu!” Ucapku dengan nada-nada kelembutan.
“Ya sudahlah, bapak turuti apa yang kamu mau saat ini, bapak akan mengambil air wudhu.” Jawab bapak.
Ibuku sudah sholat Dhuha duluan, kemudian aku susul di musholla kecil rumahku. Aku dan ibu pun selesai sholat Dhuha. Kemudian bapak datang ke musholla dan mengerjakan sholat Dhuha dua rakaat. Aku melihat ibu berdoa dengan begitu khusyu’nya sampai-sampai air matanya menetes membasahi mukenah lusuhnya. Aku berdoa pada Allah agar doa ibu terkabul dan aku juga berdoa supaya bapak sadar setelah sholat Dhuha.
Setelah selesai sholat Dhuha aku, ibu, dan bapakku berkumpul di ruang tamu yang kecil. Ibu ingin mengatakan sepatah, dua kata kepada bapak dan juga kepadaku.
“Pak, ibu ingin Bapak bekerja seperti semestinya yang dilakukan oleh suami-suami terhadap keluarga yang dipimpinnya. Ibu ingin Bapak menjadi sesosok muslim yang kuat, sabar, qona’ah, pekerja keras, dan selalu beriman pada Allah dan segala yang dicintai Allah dan Rasul-Nya. Ibu ingin melihat Bapak selalu tersenyum di dalam kebaikan, selalu mensyukuri nikmat Allah yang tiada tara ini, dan yang selalu bisa melawan syahwat yang tiada berguna.” Ucap ibu dalam suasana hati yang tentram dan damai.
“Itukah yang kau inginkan Bu, aku juga ingin Ibu bahagia dalam bahtera rumah tangga ini. Maafkan bapak Bu karena selama ini bapak bergelimang dalam kelalaian, kelalaian yang membuat bapak tidak bertanggung jawab dalam rumah tangga ini. Bapak sangat-sangat menyesal Bu atas perbuatan yang bapak lakukan selama ini terhadap Ibu dan juga anak kita, Tiara.” Jawab bapak dengan hati yang tulus ikhlas.
“Iya, pak tidak apa-apa, selama nafas ini masih bisa menghirup segarnya udara, selama itu pun kita bisa memperbaiki kerusakan rumah tangga yang selama ini sudah kita jalani. Allah akan mengampuni Bapak InsyaAllah asalkan Bapak benar-benar ingin merubah diri Bapak menjadi insan yang lebih baik lagi. Ibu akan membantu Bapak dalam merubah diri Bapak menjadi lebih baik lagi.” Kata ibu sambil tersenyum.
“Aku juga akan membantu jenengan Pak untuk menjadi insan yang lebih baik lagi, agar Allah selalu menunjukkan jalan yang lurus bagi kita semua. Bukan begitu Bu?” Ucapku, meneruskan pembicaraan ibu.
“Iya Nak, ibu sepakat dengan kamu Nak, ibu bangga bisa memiliki anugerah terindah yaitu anak sepertimu. Ibu juga berpesan padamu Nak, tuntutlah ilmu sampai engkau benar-benar letih dalam perjuanganmu. Sekarang kamu sudah di jenjang pasca sarjana, ibu harap dan ibu doakan agar kamu bisa berguna bagi agama, nusa, dan bangsa.” Kata ibu sembari tersenyum.
“Iya bu, terima kasih atas nasihat dan doa Ibu.” Jawabku dengan wajah penuh kebahagiaan.
“Iya Nak, sama-sama, doa ibu akan selalu menyertaimu dan juga bapakmu.”
“Terima kasih banyak Bu, Nak, atas kepercayaan kalian pada bapak. Bapak bersyukur bisa mempunyai istri dan anak seperti kalian. Bapak mencintai dan menyayangi kalian karena Allah.” Kata bapak sembari tersenyum.
“Alhamdulillah ya Allah, hamba bersyukur kepada-Mu karena Engkaulah yang memberikan hadiah terindah untukku dan ibuku di pagi yang cerah ini.” Gumamku dalam hati.
“Assalaamu’alaikum.” Tiba-tiba terdengar orang yang mengucapkan salam.
“Wa’alaikumussalaam warahmatullaah.” Jawab kami dengan serentak.
“Silahkan masuk Bu, ada apa?” Ucap ibu dengan suasana hati yang tenang.
“Ini Bu, ada yang ingin bertemu dengan Ibu.” Ucap ibu yang memasarkan pisang goreng ibu.
“Iya, siapa?” Jawab ibu dengan keheranan.
“Ada seorang pengusaha roti yang ingin memesan 100 pisang goreng Ibu untuk dijual di tokonya. Beliau tadi membeli 1 pisang goreng ibu dan katanya pisang gorengnya terasa sangat manis dan lezat.” Ucap ibu yang menjual nasinya dan pisang goreng ibu.
“Alhamdulillaah, benarkah Pak, Bapak ingin memesan 100 pisang goring buatan saya?”
Aku tak percaya, bapak bisa berubah setelah melaksanakan sholat Dhuha tadi, kebeningan hati yang terpancar dalam indahnya sholat Dhuha. Aku merasakan ketenangan dan kedamaian dalam jiwa ini. Aku sujud syukur atas karunia terindah di pagi ini, aku menangis terharu dalam kebahagiaan yang sungguh tak terduga-duga ini. Sajadah panjang yang terbentang di musholla tadi memberikan cahaya penerangan kepada bapakku.
Musholla yang sangat kecil pun terdapat cahaya-cahaya dari kuasa Ilahi, pancaran sang surya pagi ini tersenyum lebar menyambut kebahagiaan keluarga kami. Bunga-bunga ikut menari menyambutnya. Tatapan pagar rumah tertuju pada kebahagiaan keluarga kami. Begitu penuh cahaya Ilahi kebahagiaan yang ada pada keluarga kami. Begitu indah sholat tahajjud dan sholat Dhuha sehingga memancarkan sebuah cahaya penerangan dalam qolbu.

3 comments:

Unknown mengatakan...

sudah bagus, akan tetapi alangkah lebih baiknya kalau yang di tampilkan hanya beberapa saja, dan di patong ainun

Unknown mengatakan...

sudah bagus, akan tetapi alangkah lebih bagusnya kalau yang di tampilkan hanya sebagian dan tulisnnya hanya setengah yang di tampilkan

Ainun Jariyah mengatakan...

Owh,, kenapa lebih bagus begitu?