Bismillah
Sebelum ta'aruf dengan suami, aku hampir tak akan percaya dengan laki-laki mana pun. Kecuali bapak dan saudara-saudaraku. Karena memang sempat begitu menyakitkan hati cinta semu yang pernah datang. Ketika mempercayai seseorang dan ternyata setelahnya seseorang itu memilih yang lain hanya karena kelebihan yang ada pada wanita pilihannya.
.
.
Tak ada paksaan memang dalam menjalin suatu hubungan, tapi hubungannya tidak pernah bersentuhan tangan atau lebih dari itu, masih wajar seperti layaknya teman karena memang masih ingat Allah, jadi sungguh takut apabila melakukan maksiat. Doaku setelah wisuda tetap seperti sebelumnya, berharap dia jodoh terbaik jika menurut Allah terbaik, tapi jika tidak semoga Allah memilihkan jodoh terbaik untukku.
.
.
Setelah lama tidak berkomunikasi dengan dia, aku semakin agak khawatir dengannya. Apa memang sudah benar berubah, tiada aku lagi di hatinya. Aku hanya berpasrah pada Allah, sebaik-baik pemberi rasa cinta. Selalu menunggu kabar darinya, ah mungkin aku telah jatuh pada cinta semu yang tak berkesudahan. Untuk apa lagi aku terus memikirkannya.
.
.
Oktober 2015, pertemuan terakhir aku dengan dia, tepatnya di kampus Surabaya, dan menghadiri acara Habib Syaikh bin Assegaf. Aku diajak duduk bersamanya dalam keramaian, namun aku tetap saja dalam tempatku. Ditelpon bolak-balik namun masih saja asyik mendengarkan nyanyian Habib Syaikh, sempat merinding, benar-benar rindu Rasulullah.
.
.
Aku benar-benar merasa bersalah tidak melihat handphoneku. Tapi memang aku malu jika harus ke tempatnya, sedangkan ingin benar-benar menjaga pandangan sebelum hubungan halal. Aku pikir itu juga yang membuat dia ragu denganku. Setelah menghadiri acara tersebut, kami makan di warung pinggir jalan sambil ngobrol. Memang dia jujur, ada dua wanita pilihan yang sedang dipilih, masih bingung memilih katanya.
.
.
Sempat juga dia bilang bahwa Ibunya pernah berkata "Kapan melamar Ainun?" deg, rasanya hatiku, sudah sampai begitu ya Allah, apakah memang masih ada jalan untuk kami bersatu? Tapi, ternyata dua bulan lebih kemudian, aku mengetahui bahwa dia bersama kedua orang tuanya pergi ke rumah wanita pilihannya itu untuk izin akan melamar dan menikahi wanita tersebut.
.
.
Aku pikir memang dia sudah benar-benar yakin dengan pilihannya itu, hingga akhirnya pasrah dan memilih untuk move on dari dia. Sehingga 2 Januari 2016, aku dikenalkan temanku seseorang yang tidak pernah kukenal sama sekali selama ini. Aku pun pada awalnya bingung, tapi untuk apa lagi sedih dan berharap pada laki-laki yang sudah tak memilihku. Lebih baik membuka hati untuk yang lain.
.
.
Tak terduga, alhamdulillah hatiku merasa yakin, bahwa in shaa Allah dialah (suamiku sekarang) jodohku, padahal belum pernah bertemu sama sekali dan hanya melihat foto dia di media sosial facebook. Lanjut pada tahap selanjutnya, 4 Januari 2016 bertemu dengan perantara dua temanku. Rasanya dag dig dug, ditraktir makan stik daging di sebuah resto Surabaya. Maa syaa Allah luar biasa rasanya, hehe.
.
.
Pertemuan kedua, dia mengirim pecel khas kotanya untukku. Mengantarkan pecel bersama teman-temannya sampai dimarahi bapak-bapak karena parkir kendaraan sembarangan. Ya Allah, sampai segitu perjuangannya. Aku hanya bisa mendoakan, jika memang benar jodohku semoga Allah selalu memudahkan jalannya.
.
.
Pertemuan ketiga, dia mengajak Ibunya untuk langsung menemuiku, padahal Ibunya mabuk di pertengahan jalan, karena memang kotanya dengan kota Surabaya lumayan jauh. Maa syaa Allah, semakin deg-degan rasanya akan bertemu dengan orang tuanya. Tapi memang hanya Ibu, Ayahnya telah meninggal September 2015 yang lalu.
.
.
-Bersambung-
#30DWC #30DWCJilid13 #Squad2 #Day25
Sebelum ta'aruf dengan suami, aku hampir tak akan percaya dengan laki-laki mana pun. Kecuali bapak dan saudara-saudaraku. Karena memang sempat begitu menyakitkan hati cinta semu yang pernah datang. Ketika mempercayai seseorang dan ternyata setelahnya seseorang itu memilih yang lain hanya karena kelebihan yang ada pada wanita pilihannya.
.
.
Tak ada paksaan memang dalam menjalin suatu hubungan, tapi hubungannya tidak pernah bersentuhan tangan atau lebih dari itu, masih wajar seperti layaknya teman karena memang masih ingat Allah, jadi sungguh takut apabila melakukan maksiat. Doaku setelah wisuda tetap seperti sebelumnya, berharap dia jodoh terbaik jika menurut Allah terbaik, tapi jika tidak semoga Allah memilihkan jodoh terbaik untukku.
.
.
Setelah lama tidak berkomunikasi dengan dia, aku semakin agak khawatir dengannya. Apa memang sudah benar berubah, tiada aku lagi di hatinya. Aku hanya berpasrah pada Allah, sebaik-baik pemberi rasa cinta. Selalu menunggu kabar darinya, ah mungkin aku telah jatuh pada cinta semu yang tak berkesudahan. Untuk apa lagi aku terus memikirkannya.
.
.
Oktober 2015, pertemuan terakhir aku dengan dia, tepatnya di kampus Surabaya, dan menghadiri acara Habib Syaikh bin Assegaf. Aku diajak duduk bersamanya dalam keramaian, namun aku tetap saja dalam tempatku. Ditelpon bolak-balik namun masih saja asyik mendengarkan nyanyian Habib Syaikh, sempat merinding, benar-benar rindu Rasulullah.
.
.
Aku benar-benar merasa bersalah tidak melihat handphoneku. Tapi memang aku malu jika harus ke tempatnya, sedangkan ingin benar-benar menjaga pandangan sebelum hubungan halal. Aku pikir itu juga yang membuat dia ragu denganku. Setelah menghadiri acara tersebut, kami makan di warung pinggir jalan sambil ngobrol. Memang dia jujur, ada dua wanita pilihan yang sedang dipilih, masih bingung memilih katanya.
.
.
Sempat juga dia bilang bahwa Ibunya pernah berkata "Kapan melamar Ainun?" deg, rasanya hatiku, sudah sampai begitu ya Allah, apakah memang masih ada jalan untuk kami bersatu? Tapi, ternyata dua bulan lebih kemudian, aku mengetahui bahwa dia bersama kedua orang tuanya pergi ke rumah wanita pilihannya itu untuk izin akan melamar dan menikahi wanita tersebut.
.
.
Aku pikir memang dia sudah benar-benar yakin dengan pilihannya itu, hingga akhirnya pasrah dan memilih untuk move on dari dia. Sehingga 2 Januari 2016, aku dikenalkan temanku seseorang yang tidak pernah kukenal sama sekali selama ini. Aku pun pada awalnya bingung, tapi untuk apa lagi sedih dan berharap pada laki-laki yang sudah tak memilihku. Lebih baik membuka hati untuk yang lain.
.
.
Tak terduga, alhamdulillah hatiku merasa yakin, bahwa in shaa Allah dialah (suamiku sekarang) jodohku, padahal belum pernah bertemu sama sekali dan hanya melihat foto dia di media sosial facebook. Lanjut pada tahap selanjutnya, 4 Januari 2016 bertemu dengan perantara dua temanku. Rasanya dag dig dug, ditraktir makan stik daging di sebuah resto Surabaya. Maa syaa Allah luar biasa rasanya, hehe.
.
.
Pertemuan kedua, dia mengirim pecel khas kotanya untukku. Mengantarkan pecel bersama teman-temannya sampai dimarahi bapak-bapak karena parkir kendaraan sembarangan. Ya Allah, sampai segitu perjuangannya. Aku hanya bisa mendoakan, jika memang benar jodohku semoga Allah selalu memudahkan jalannya.
.
.
Pertemuan ketiga, dia mengajak Ibunya untuk langsung menemuiku, padahal Ibunya mabuk di pertengahan jalan, karena memang kotanya dengan kota Surabaya lumayan jauh. Maa syaa Allah, semakin deg-degan rasanya akan bertemu dengan orang tuanya. Tapi memang hanya Ibu, Ayahnya telah meninggal September 2015 yang lalu.
.
.
-Bersambung-
#30DWC #30DWCJilid13 #Squad2 #Day25



0 comments:
Posting Komentar