Menjadi penulis itu mudah ga sih? Banyak yang bermimpi menjadi penulis, namun juga banyak yang belum konsisten menulis setiap hari. Seperti menampar diriku sendiri. Menulis setiap hari jika ada challenge saja. Hari-hari berikutnya ke mana saja? Tak sempatkah menulis di waktu malam atau pagi sewaktu pikiran masih segar.
Menjadi penulis, harus siap juga menjadi pembaca yang rajin. Oh tidak, tapi buku-bukuku di rak, di atas meja, di kamar, masih menumpuk. Membacanya pun jarang, alasannya mengurus suami dan anak, jualan online, membaca di sosial media (instagram, facebook, aplikasi buku online, whatsapp, telegram). Terlalu banyak godaan di gadget yang kupegang sekarang ini. Hm, lagi-lagi memang harus pandai mengatur waktu.
Memang tak ada salahnya juga, memanfaatkan gadget untuk kebaikan. Tidak untuk kegiatan yang sia-sia. Di sana juga bisa bertemu teman-teman online sesama penulis, pedagang, teman-teman sekolah dan kuliah dulu. Segudang manfaat dari gadget, tapi ada buruknya juga ketika bersama keluarga dan lebih mementingkan gadget. Lebih baik mana mementingkan gadget apa buku? Buku bisa dijadikan teman di mana pun kita berada dan tak menghalangi keluarga untuk bisa dekat dengan kita.
Buku juga memberi kita banyak ilmu. Tapi, zaman sekarang memang berbeda dengan zaman dulu. Sekarang apa-apa serba digital. Sehingga penulis pun kadang tergoda dengan adanya digital. Membuat diri penulis jarang membaca buku. Ah, mungkin itu hanya sedikit penulis yang mengalaminya.
Bisa ga menjadi penulis, tapi jarang membaca buku? Hal itu sepertinya jarang terjadi, karena semua penulis pasti cinta buku. Tapi, memang ada sebagian penulis yang memiliki kekurangan tidak bisa melihat (tuna netra), tetap bisa menjadi penulis yang menginspirasi. Kembali pada kemauan diri dan tekad yang kuat. Kun fayakun Allah itu ada. Allah bersama orang-orang yang tak pernah menyerah, berjuang di jalan-Nya dengan sungguh-sungguh.
Jika benar-benar memiliki impian menjadi penulis. Harus selalu semangat membaca buku setiap hari. Lihatlah penulis-penulis hebat di luar sana. Mereka cinta membaca, cinta alam, dan cinta menulis. Sehingga karya-karyanya mampu membuat para pembaca terharu, terinspirasi, termotivasi, dan mengidolakan sang penulis. Sampai-sampai meminta tanda tangan penulis ketika bertemu dalam seminar kepenulisan.
Ini bukan tentang terkenal, tapi tentang bagaimana bisa mendongkrak semangat para pemuda pemudi agar terus berkarya untuk negeri tercinta. Mencintai literasi memang bukan hal yang utama. Tapi, dengan literasi, semua bisa paham tentang agama, ilmu alam, sosial, budaya, dan aneka ragam warna di dalam buku. Masih bermimpi menjadi penulis, namun jarang membaca buku? Lihat saja perbedaannya, sungguh terlihat. Subhanallah, diri ini masih belum cinta membaca buku, belum layak menjadi penulis.
Masih harus banyak belajar dan berguru pada para penulis hebat, best seller buku-bukunya. Mereka sudah menjejakkan kaki di berbagai negara. Berhasil mengadakan seminar kepenulisan beberapa kali. Sedangkan diri ini masihlah seorang penulis pemula yang jarang membaca buku. Masih berjuang agar setiap hari bisa membaca buku, setidaknya one day one book. Bercita-cita memiliki rumah baca, namun belum juga terlaksana.
Semoga kita selalu dikelilingi orang-orang yang semangat membaca buku dan menebar virus-virus kebaikan. Sehingga kita tak malas untuk mengejar impian menjadi penulis produktif yang bermanfaat untuk orang lain. Bisa memotivasi para pembaca, meskipun kita telah tiada di dunia ini. Tak lupa juga sertakan Allah dalam tiap langkah. Membaca Alquran tak pernah ditinggalkan. Muhasabah diri setiap waktu.
Gresik, 16 Mei 2019
#Day11
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah
Menjadi penulis, harus siap juga menjadi pembaca yang rajin. Oh tidak, tapi buku-bukuku di rak, di atas meja, di kamar, masih menumpuk. Membacanya pun jarang, alasannya mengurus suami dan anak, jualan online, membaca di sosial media (instagram, facebook, aplikasi buku online, whatsapp, telegram). Terlalu banyak godaan di gadget yang kupegang sekarang ini. Hm, lagi-lagi memang harus pandai mengatur waktu.
Memang tak ada salahnya juga, memanfaatkan gadget untuk kebaikan. Tidak untuk kegiatan yang sia-sia. Di sana juga bisa bertemu teman-teman online sesama penulis, pedagang, teman-teman sekolah dan kuliah dulu. Segudang manfaat dari gadget, tapi ada buruknya juga ketika bersama keluarga dan lebih mementingkan gadget. Lebih baik mana mementingkan gadget apa buku? Buku bisa dijadikan teman di mana pun kita berada dan tak menghalangi keluarga untuk bisa dekat dengan kita.
Buku juga memberi kita banyak ilmu. Tapi, zaman sekarang memang berbeda dengan zaman dulu. Sekarang apa-apa serba digital. Sehingga penulis pun kadang tergoda dengan adanya digital. Membuat diri penulis jarang membaca buku. Ah, mungkin itu hanya sedikit penulis yang mengalaminya.
Bisa ga menjadi penulis, tapi jarang membaca buku? Hal itu sepertinya jarang terjadi, karena semua penulis pasti cinta buku. Tapi, memang ada sebagian penulis yang memiliki kekurangan tidak bisa melihat (tuna netra), tetap bisa menjadi penulis yang menginspirasi. Kembali pada kemauan diri dan tekad yang kuat. Kun fayakun Allah itu ada. Allah bersama orang-orang yang tak pernah menyerah, berjuang di jalan-Nya dengan sungguh-sungguh.
Jika benar-benar memiliki impian menjadi penulis. Harus selalu semangat membaca buku setiap hari. Lihatlah penulis-penulis hebat di luar sana. Mereka cinta membaca, cinta alam, dan cinta menulis. Sehingga karya-karyanya mampu membuat para pembaca terharu, terinspirasi, termotivasi, dan mengidolakan sang penulis. Sampai-sampai meminta tanda tangan penulis ketika bertemu dalam seminar kepenulisan.
Ini bukan tentang terkenal, tapi tentang bagaimana bisa mendongkrak semangat para pemuda pemudi agar terus berkarya untuk negeri tercinta. Mencintai literasi memang bukan hal yang utama. Tapi, dengan literasi, semua bisa paham tentang agama, ilmu alam, sosial, budaya, dan aneka ragam warna di dalam buku. Masih bermimpi menjadi penulis, namun jarang membaca buku? Lihat saja perbedaannya, sungguh terlihat. Subhanallah, diri ini masih belum cinta membaca buku, belum layak menjadi penulis.
Masih harus banyak belajar dan berguru pada para penulis hebat, best seller buku-bukunya. Mereka sudah menjejakkan kaki di berbagai negara. Berhasil mengadakan seminar kepenulisan beberapa kali. Sedangkan diri ini masihlah seorang penulis pemula yang jarang membaca buku. Masih berjuang agar setiap hari bisa membaca buku, setidaknya one day one book. Bercita-cita memiliki rumah baca, namun belum juga terlaksana.
Semoga kita selalu dikelilingi orang-orang yang semangat membaca buku dan menebar virus-virus kebaikan. Sehingga kita tak malas untuk mengejar impian menjadi penulis produktif yang bermanfaat untuk orang lain. Bisa memotivasi para pembaca, meskipun kita telah tiada di dunia ini. Tak lupa juga sertakan Allah dalam tiap langkah. Membaca Alquran tak pernah ditinggalkan. Muhasabah diri setiap waktu.
Gresik, 16 Mei 2019
#Day11
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah



0 comments:
Posting Komentar