Sabtu, 18 Mei 2019

Kenangan Indah oleh Stik Daging

Teringat waktu pertama kali bertemu dengan suami. Saat itu suami bersama dengan temannya yang mengenalkan aku dengannya. Aku bersama dengan sahabat perempuanku, karena pertemuan tanpa mahrom bukanlah hal yang baik.  Di kedai stik daging kota rantau saat itu. Aku dan sahabatku datang lebih awal. Sedangkan suami dan temannya datang kemudian.

Pertemuan pertama pada tanggal 4 Januari 2016. Kumerasa deg-degan karena belum pernah mengenalnya sama sekali. Baru saja kenal di BBM dan WA pada tanggal 2 Januari lewat perantara temanku yang juga adalah temannya. Memang bukan ta'aruf yang benar-benar Islami. Tapi tidak tahu, kuyakin bisa melanjutkan hubungan baik dengannya. Pertemuan pertama dengan menu stik daging, maa syaa Allah luar biasa rasanya, ada rasa gugup, malu, dan rasa-rasa campur aduk.

Entah kenapa waktu pertama kali aku dikenalkan oleh temanku dengan suami. Rasanya yakin bahwa in syaa Allah dialah jodohku. Setelah pernah mengalami ujian hati dengan seorang laki-laki yang ternyata dia bukanlah jodohku. Istikhoroh pun kulakukan dan hasilnya yakin juga mau melanjutkan hubungan baik dengannya. Kami jarang kontak karena memang aku sadar, dari pengalaman pahit sebelumnya. Jika pun kontak dengannya, kami hanya sebatas melakukan tanya jawab yang menurut kami penting untuk kehidupan selanjutnya nanti sebelum dan setelah menikah.

Pertemuan pertama memunculkan kesan yang baik. Suami bertanya-tanya padaku, aku pun menjawab. Tapi, banyak malunya karena memang belum menjadi pasangan halal. Apalagi juga ditemani oleh sahabatku dan teman yang mengenalkan aku dengan suami. Suami orangnya sederhana, dermawan, dan baik. Kesan pertemuan pertamaku, sampai-sampai stik dagingnya pun tidak habis kumakan, karena memang baru pertama kali juga makan stik daging, maa syaa Allah.

Aku bukan orang kota, aku dilahirkan di desa. Jadi, untuk makan stik daging pun harus belajar dulu. Rasa malu ketika itu di hadapan suami, sahabat, dan temanku. Sedangkan mereka sepertinya sudah terbiasa makan stik daging atau sejenisnya. Pada saat kuliah dan liburan pun aku jarang makan di kedai atau restoran yang mewah seperti menu stik daging. Tapi, pertemuan pertama itu setelah lulus kuliah 9 bulan lebih.

Kenangan indah oleh stik daging, sungguh mudah diingat. Rasa stik daging yang lezat, membuat hati ini bahagia. Tapi, ada rasa juga, "apa aku pantas nanti bersanding dengan seorang laki-laki yang sedang duduk di depanku di meja kedai ini?" Hanya Allah yang Mengetahui rencana selanjutnya. Obrolan pun telah berakhir, stik daging belum berhasil kuhabiskan. Sayang banget sebenarnya karena makanan enak tak dihabiskan.

Iya sudahlah, pertemuan pertama yang penting sudah terlaksana. Alhamdulillah, syukurku pada Allah. Semoga sisa stik dagingku yang dulu itu bermanfaat untuk yang lain yang membutuhkan, kucing atau apa misalnya. Stik daging lezat itu kudapatkan lagi ketika hari ulang tahunku kedua bersama suami. Saat hamil 5 bulan, maa syaa Allah, ditraktik pak suami lagi. Maka nikmat mana lagi yang mau kudustakan?

Stik daging memunculkan kenangan-kenangan indah sebelum dan pada pernikahanku dengan suami. Ingin membuat sendiri, tapi belum mencoba dan sepertinya memang lebih lezat ketika beli di kedai stik. Menulis ini menjadikan aku lapar di malam Ramadan yang penuh berkah ini. Maklum, menjadi ibu menyusui pasti cepat laparnya. Tapi, alhamdulillah masih bisa menjalani puasa. Stik daging, kurindu padamu, juga orang tercinta yang menemani.

Mengingat stik daging, meskipun sedang berjauhan dengan suami. Membuat hati semakin rindu akan kebersamaan dengan suami tercinta. Ditambah lagi sekarang ada si putri kecil cantik kami yang lucu dan menggemaskan. In syaa Allah nanti bisa makan stik daging lagi ya Mas, bersama anak kita juga. Maa syaa Allah pasti bahagianya double. Stik daging memang kenangan indah di antara kita.

Maa syaa Allah, indah nian kenangan kita meskipun hanya karena makanan. Semoga Allah selalu memberkahi pernikahan kita. Menjadikan keluarga kita sakinah mawaddah warahmah. Dikaruniai anak yang shalih dan shalihah. Selalu menyemangati dalam suka maupun duka. Senantiasa menjalani pernikahan dengan harmonis, sabar, ikhlas, dan cinta kasih, sehingga selalu mencintai Allah dalam setiap langkah.

Gresik, 18 Mei 2019

#Day12
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah

0 comments: