Minggu, 12 Mei 2019

Kerupuk Memang Enak tapi Kurang Menyehatkan

Berbicara tentang kerupuk, ya, ini adalah makanan enak jika dibarengi dengan makan nasi. Tapi kenapa banyak anak kecil yang suka. Terutama kerupuk uyel warna putih yang biasanya dijual di pasar. Sebagai ibu saya pun suka makan dengan kerupuk. Eh, anaknya ikutan suka. Giliran batuk, rasanya kasihan sama si kecil.


Kerupuk sehat ialah yang digoreng dengan pasir atau yang digoreng dengan minyak sendiri di rumah. Tapi memang jika makan tak ada kerupuk rasanya agak beda. Padahal pernah waktu di Surabaya aku makan tanpanya juga ga masalah. Sekarang entah kenapa harus terbiasa makan sama kerupuk lagi. Padahal ada lemaknya juga iya. Disebabkan minyak yang digunakan untuk menggoreng, adakalanya minyak yang digunakan kurang memenuhi standar oleh penjualnya.

Ingat waktu berbuka puasa, dan anakku bilang "upuk-upuk" sambil menunjuk ke arah piringku yang memuat nasi, sayur, lauk pauk, dan kerupuk. Dia baru saja berangsur sembuh dari batuk pileknya. Inginku tak memberi, tapi si kecil terus menunjuk dan bahkan mau menangis. Akhirnya aku menyerah dan kerupuk pun berhasil diraih oleh tangan dan mulutnya. Tak hanya anakku, keponakan-keponakanku juga suka makan kerupuk. Apa memang semua anak kecil suka makan kerupuk?

Kerupuk tetap menjadi idolanya. Sedangkan jika disuapin nasi, sayur, dan lauk pauk, serta buah seringnya ga habis. Hanya beberapa suapan saja. Lebih parahnya waktu umur 6 bulan sampai 12 bulan.an suka kalau disuruh makan buah. Umur setahun lebih kenapa susah disuapin buah? Apa memang karena si kecil kadang-kadang saja makan buahnya?

Sebagai ibu dari seorang anak, galau jika anak sampai GTM (gerakan tutup mulut) ketika disuap menu 4 bintang. Sedangkan ketika dia tahu keberadaan kerupuk. Langsung saja menunjuk dan ingin memakannya. Subhanallah, cemilan satu ini memang ringan, murah, tapi kurang menyehatkan. Apa iya sebagai ibu aku harus belajar makan tanpa kerupuk? Agar anakku tak meniruku lagi.

Ah, tapi ayahnya juga suka makan dengan kerupuk. Oh kerupuk, kenapa kau begitu menggiurkan. Sehingga membuat anakku tak bosan denganmu. Bosan pun paling kalau kerupuk itu kugoreng sendiri. Kerupuk favoritnya tetap kerupuk uyel. Warnanya putih, ada lubangnya, krenyes-krenyes jika dimakan.

Apa sih manfaat dari cemilan kerupuk? Sebagai pelengkap saja mungkin. Tapi, di sini juga memang ada kerupuk khas sidayu. Kerupuk ikan yang enak rasanya. Banyak orang yang suka, termasuk saudara laki-lakiku dan suamiku. Kerupuk khas yang bau dan rasanya beda dari yang lain.

Krupuk memang enak tapi kurang menyehatkan. Lantas bagaimana agar anak memakan cemilan yang sehat? Apa aku harus berhenti makan kerupuk? Sepertinya tidak akan bisa, karena di mana-mana suguhan pun pasti ada kerupuk. Setidaknya aku terus berusaha memahamkan pada anak agar tidak sering makan kerupuk. Karena kurang baik untuk tubuh, lebih baik nyemil buah.

Semoga para pedagang kerupuk pun jika menggoreng kerupuk minyaknya memenuhi standart. Membuat kerupuknya juga tak banyak membumbuhi dengan micin, kalau bisa tanpa micin. Hehe. Karena setiap orang tua pasti menginginkan anak-anak yang sehat. Setidaknya dimulai dari contoh dari orang tua. Ya, semuanya memang kembali pada orang tuanya. Mau mencontohkan yang baik dan sehat atau tidak.

Lagi-lagi peran dan teladan orang tua yang membuat anak mengikutinya. Bunda dan Ayah akan berusaha memberi teladan yang baik untukmu Nak. Maafkan kami, jika kadang tidak memperhatikanmu ketika kamu bermain dan belajar. Masih menyuguhimu kerupuk dan makanan yang kurang sehat. Semoga tak ada penyakit setelahnya. Jika pun batuk dan pilek, itu bukan melulu karena kerupuk dan es.

In syaa Allah, ke depan Bunda dan Ayah akan lebih baik lagi dalam memberimu makanan. Sehat selalu ya Nak, bahagiamu bahagia kami. Jika kerupuk membuatmu bahagia, itu bukan solusi terbaik. Masih banyak makanan yang menyehatkan. Semoga kamu menyukainya dan membiasakan sampai dewasa nanti. Bukannya pemilih makanan, tapi ini berhubungan dengan kesehatan.

Gresik, 13 Mei 2019

#Day7
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah

0 comments: