Selasa, 07 Mei 2019

Tangis yang Berujung Rindu

Ramadan kedua, kulalui hari seperti biasa, menjadi Ibu Rumah Tangga yang bertugas membersamai anak. Amanah dari suami yang sedang study di luar sana. Hari ini anakku agak rewel karena belum sembuh total dari batuknya, minum obat batuk pun agak susah, sudah dipaksa tapi yang tertelan hanya sedikit. Ingin melihat senyum dan ceriamu seperti hari-hari biasanya Nak. Segera sehat ya Nak. Bunda kangen akan ocehanmu yang lucu, bisa berlari ke sana ke mari.
Tapi mungkin dengan sakit ini, Allah ingin anakku bisa istirahat dulu dari aktivitas biasanya. Sehari-hari memang dia capek, main, lari bolak-balik ke aku dan neneknya. Ya tapi memang anak usia 18 bulan lagi aktif-aktifnya. Kalau sudah sakit, suka minta gendong tapi jika capek digendong minta dikeloni saja. Besok Bunda sudah mulai puasa pertama in syaa Allah Nak setelah suci dari haidh sore tadi. Kamu harus sehat ya.

Pagi sampai sore terlewati dengan baik. Tapi memang mengatur waktu masih belum teratur aku sebagai ibu. Sehingga mengirim foto dan video kepada suami pun sampai lupa, ketambahan ada mbah buyut dan mbahnya anakku datang ke sini. Ditambah juga kamera di handphone sejak tadi siang ga bisa dibuat mencetak foto dan merekam video. Malamnya suami tambah agak marah kepadaku karena seharian belum mengirim foto putri kecilnya. Ya Allah, belum bisa menjadi istri yang baik untuk suami. Hiks

Ternyata oh ternyata, baru bisa dipakai untuk ambil foto dan merekam video ketika handphone selesai direstart. Tadinya memang masih kucharger karena menjelang sore baterai handphone sudah melemah. Akhirnya malam ini tadi kukirim satu foto dan satu video untuk suami tercinta. Percakapanku terakhir di whatsapp hanya dibaca saja oleh suami, tidak ditanggapi lagi. Terpenting di percakapan aku sudah minta maaf. In syaa Allah suami sudah memaafkan, seperti diamnya Rasulullah pada istrinya ketika istrinya cerewet/marah, beliau pasti memaklumi.

Ketika tak ada balasan percakapan dari suami. Anakku terbangun dari tidurnya. Rasanya sedih dan menahan rindu pada suami di sana. Merindukan kebersamaan lagi, tapi ga perlu sedih. Karena berjauhan pun 4 bulan, nanti kurang lebih 2 bulan bersama lagi ketika suami libur kuliahnya. Bersama memang lebih membahagiakan.

Tak apalah belum bisa bersama, karena Allah senantiasa membersamai hamba-Nya di mana pun berada. Ketika dekat dengan orang tua rindu dengan suami. Ketika dekat dengan suami, rindu dengan orang tua. Hidup memang tidak melulu sempurna, kesempurnaan hanya milik Allah. Kita manusia awalnya hanya segumpal daging yang nanti jika telah kembali pada-Nya akan terkubur bersama tanah. Alam akhirat yang menanti.

Tangis yang berujung rindu tadi biarlah hilang bersama doa-doa baik untuk keluargaku. Anak bisa tidur lagi meskipun kadang masih terbangun lagi saja aku sudah bersyukur. Menatap anak tidur kadang ada rasa penyesalan, belum bisa menjadi ibu yang baik untuknya. Shalihah dan sehat selalu ya Nak. Bunda cinta dan sayang padamu, juga Ayahmu. Hidup sesurga nanti in syaa Allah bi ridlallah. Aamiin

Gresik, 7 Mei 2019

#Day2
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah

0 comments: