Alhamdulillah, Ramadan tahun ini masih diberi kesempatan oleh Allah dalam menyambut bulan Ramadan penuh berkah dengan suka cita. Tidak seperti di Palestina, awal Ramadan, peluru-peluru Yahudi, Israel menyerang warga Palestina. Sudah keberepa kalinya ini? Bahkan mereka bisa sahur di dunia, namun berbuka di syurga, in syaa Allah syahid. Pejuang Palestina tetap berjuang di titik darah penghabisan untuk menjaga Masjidil Aqsha. Masjid kiblat pertama di sinilah adanya, kemudian beralih ke Ka'bah di Masjidil Haram.
Pagi tadi, pukul 03.00 diadakan sahur bersama dan shalat shubuh berjama'ah, bersama Syaikh Yahya Muhammad Al Syafei (Ulama' Palestina) di masjid Al Mukhlashin Gresik. Sayang sekali aku tak bisa menghadirinya karena anak yang masih tidur. Tapi, alhamdulillah tetap bisa mendengarkan pengajian dan lantunan ayat suci Alquran Syaikh Yahya. Sahur di rumah seperti biasanya. Setelah shalat shubuh, anakku bangun tanpa tidur lagi. Ketika itu pengajian oleh beliau dikeraskan suara speakernya sehingga terdengar sampai rumah-rumah dekat masjid.
Beliau berceramah dengan memakai Bahasa Arab, diterjemahkan oleh pihak lazismu (lembaga amil zakat, infaq, sedekah muhammadiyah). Para jama'ah juga sangat antusias ketika ditontokan video pengeboman saat awal Ramadan. Mereka sedih, ibuku juga baru mengetahui tentang hal itu. Karena memang ibu belum bisa memakai hp android dan hp yang dipakai hp biasa untuk menelpon saja. Jadi, tak tahu kabar terkini, kalau bukan tahu dari anaknya atau berita di televisi. Para jama'ah pun menyiapkan infaq terbaik sebelum sahur, telah disiapkan kotak infaq, meskipun sehari sebelum sahur bersama sudah berjalan orang yang membawa kotak infaq tersebut, mengambil donasi dari masyarakat.
Infaq dari para jama'ah dan masyarakat akan dipergunakan untuk pembangunan rumah sakit Indonesia di Palestina. Syaikh Yahya tidak hanya hadir di masjid Al Mukhlashin, beliau juga hadir di masjid-masjid lain secara bergantian. Menghadiri dan mengimami shalat shubuh dan tarawih. Beliau tergolong masih muda, seumuran dengan suamiku. Lantunan ayat suci Alqurannya begitu indah didengar. Sampai-sampai ibuku ingin diimami lagi oleh beliau, sayangnya hanya sekali waktu shubuh tadi.
Tak lupa juga Syaikh Yahya mengajak para jama'ah untuk mendoakan para pejuang di Palestina. Donasi yang diterima pun sebagai bentuk kepedulian untuk Palestina. Meskipun kita tak berada di sana, tapi mereka selalu butuh doa dari kita. Syaikh berkata dan mendoakan, in syaa Allah, suatu saat nanti kita orang Indonesia bisa ke Palestina, mengunjungi Masjidil Aqsha. Beliau juga menceritakan dalam pengajian tadi, perjuangan Umat Islam pada masa Khalifah Umar bin Khaththab dan Shalahuddin Al Ayyubi dalam mengambil alih kepemimpinan serta mengembalikan fungsi Masjid Al Aqsha seperti semula. Sampai saat ini pun Umat Islam di Palestina tetap berjuang dalam menjaga Masjidil Aqsha.
Peduli Palestina, artinya kita selalu mendoakan dan memberikan bantuan terbaik kita untuk Umat Islam di sana. Air mata dan luka yang dialami mereka tak bisa dibandingkan dengan air mata dan luka kita di sini yang ringan. Mereka berjuang sungguh-sungguh demi tegaknya agama Allah. Maa syaa Allah, maka, tak sepantasnya di dunia ini kita banyak mengeluh. Lihatlah Umat Islam di Palestina, pedulilah pada mereka, doakan selalu agar diberi kekuatan serta kesabaran menghadapi kejamnya kaum yahudi, israel. Mereka telah menghilangkan nyawa-nyawa manusia tak berdosa.
Apalagi ini bulan Ramadan, bulan di mana diterimanya doa-doa in syaa Allah. Semoga warga Palestina selalu dalam lindungan Allah. Jika ada yang wafat pun, in syaa Allah mereka wafat dengan syahid. Allah tidak tidur, Dia akan menolong hamba-hamba-Nya yang membela agama Islam. Setelah wafatnya para mujahid lama di Palestina, akan lahir juga mujahid-mujahid baru. Mari terus peduli Palestina!
Gresik, 21 Mei 2019
17 Ramadan 1440 H
#Day16
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah
#ainunfiisabiilillaah
@pict. by google
@pict. by google




0 comments:
Posting Komentar